BANYAK DICARI, Wa +62 858 5946 5858, Wisata Religi Ziarah Wali Songo
Minggu, 28 Oktober 2018
Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019,
Tour Ziarah waliSongo,
Wisata Religi,
Ziarah Wali Songo
Edit
SUNAN DRAJAT
BANYAK DICARI, Wisata Religi Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019,
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
#ziarahWalisongo#SejarahWaliSongo#MakamWaliSongo#SejarahWaliSongo#SejarahSunanDrajat#WaliSongo#SunanWaliSongo#Makam#Ziarah#WisataWaliSongo#ZiarahMakamSunanDrajat#WisataWaliSongo#WaliSongo
BANYAK DICARI, Wisata Religi Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019, Tour Ziarah WaliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Makam Sunan Drajat
Paket Ziarah Wali Songo 2019. Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470,
dengan nama kecil Raden Qasim, lalu mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah
putra dari Sunan Ampel, yang juga saudara dari Sunan Bonang.
Setelah
menguasai pelajaran Islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai
tanah perdikan di kecamatan Paciran, yang merupakan tanah pemberian kerajaan
Demak. Sebagai penghargaan atas keberha-silannya menyebarkan agama Islam dan
usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi
warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan
Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi
Makam
Sunan Drajat bisa ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels
(Anyar-Panarukan), 30 menit bila melalui Lamongan.
Selain
itu, untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar
agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta
benda-¬benda bersejarah peninggalannya, keluarga dan para sahabatnya yang
berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan
Musium Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Musium ini telah diresmikan
oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.
Sejarah
Singkat
Sunan
Drajat menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di kampung halamannya di
Ampel Denta, Surabaya. Setelah dewasa, beliau diperintahkan oleh ayahandanya,
Sunan Ampel, untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik. Maka, berlayarlah Sunan
Drajat. Dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah
perjalananannya, perahu yang ditumpangi Sunan drajat terseret badai dan
kemudian pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Sunan
Drajat selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Selanjutnya, beliau
ditolong oleh ikan cucut dan ikan talang (ada juga yang menyebut ikan
cakalang). Dengan menunggang pada kedua ikan tersebut, Sunan Drajat berhasil
mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak,
Banjarwati. Berdasarkan sejarah, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1485
Masehi. Di sana, Sunan Drajat disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah dan
Mbah Mayang Madu.
Dua
tokoh tersebut sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga
terdampar di tempat itu beberapa tahun sebelumnya. Sunan Drajat lantas menetap
di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak,
Raden Qasim kemudian mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren
tempat mengaji ratusan penduduk. Jelak, yang mulanya hanyalah dusun kecil yang
terpencil, lama kelamaan tumbuh menjadi kampung yang besar dan ramai. Namanya
pun berubah menjadi Banjaranyar. 3 tahun kemudian, Sunan Drajat pindah ke
selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, menuju tempat yang lebih tinggi dan
terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat tersebut kemudian dinamai Desa Drajat. Dari sinilah beliau
mulai mendapatkan gelar Sunan Drajat.
Akan
tetapi, Sunan Drajat masih menganggap lokasi tersebut belum strategis untuk
dijadikan pusat dakwah Islam. Sunan Drajat kemudian diberi izin oleh Sultan
Demak, yang merupakan penguasa Lamongan waktu itu, untuk membuka lahan baru di
wilayah perbukitan yang ada di selatan. Lahan yang masih berupa hutan belantara
tersebut dikenal oleh penduduk sekitar sebagai daerah yang angker. Berdasarkan
sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah saat pembukaan lahan tersebut.
Mereka lantas meneror penduduk di malam hari, dan menyebarkan penyakit. Akan
tetapi, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasinya. Sesudah pembukaan
lahan selesai, Sunan Drajat bersama para pengikutnya kemudian membangun
permukiman baru, seluas sekitar 9 hektar.
Atas
petunjuk Sunan Giri, melalui mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan
selatan, yang saat ini menjadi kompleks pemakaman, dan disebut Ndalem Duwur.
Sunan Drajat kemudian mendirikan masjid sedikit jauh di bagian barat tempat
tinggalnya. Masjid inilah yang kemudian menjadi tempat dakwah beliau menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.
Sunan Drajat menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, sampai beliau akhirnya
wafat pada tahn 1522. Di tempat ini saat ini dibangun sebuah museum sebagai
tempat penyimpanan barang-barang peninggalan Sunan Drajat (termasuk dayung
perahu yang dulu pernah menyelamatkannya). Sementara lahan bekas tempat tinggal
Sunan Drajat saat ini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.Sunan Drajat terkenal
akan kearifan dan kedermawanannya. Beliau menurunkannya kepada para pengikutnya
kaidah tak saling menyakiti, baik itu melalui perkataan ataupun perbuatan. ''Bapang
den simpangi, ana catur mungkur,'' demikian petuah beliau. Yang kurang lebih
maksudnya adalah, "jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan
orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu".
Sunan
Drajat memperkenalkan Islam dengan konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara bijak,
tanpa paksaan. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan Drajat menempuh 5 metode. Pertama, melalui pengajian secara
langsung di masjid ataupun langgar. Kedua, dengan menyelenggarakan pendidikan
di pesantren. Ketiga, memberi fatwa dan petuahnya dalam menyelesaikan masalah.
keempat, dengan kesenian tradisional. Sunan Drajat seringkali berdakwah melalui
tembang pangkur dengan iringan gending. Kelima, beliau juga menyampaikan ajaran
Islam melalui ritual adat tradisional, asalkan tidak bertentangan dengan ajaran
Islam.
Desa
Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan
dakwah Sunan Drajat sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali
kerajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36
tahun.
Beliau
sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan
nasib kaum fakir miskin. Ia terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial
baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada
etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan
kemakmuran.
Usaha
ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk
mengatur wilayahnya yang mempunyai otonomi.
Sebagai
penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya
menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi
warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan
Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.
Fatimah
az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib :
-
Imam Husain
-
Ali Zainal Abadin
-
Muhammad al-Baqir
-
Ja'far ash-Shadiq
-
Ali al-Uraidhi
-
Muhammad al-Naqib
-
Isa ar-Rumi
-
Ahmad al-Muhajir
-
Ubaidullah
-
Alwi Awwal
-
Muhammad Sahibus Saumiah
-
Alwi ats-Tsani
-
Ali Khali' Qasam
-
Muhammad Shahib Mirbath
-
Alwi Ammi al-Faqih
-
Abdul Malik Azmatkhan
-
Abdullah Khan
-
Ahmad Syah Jalal
-
Jamaludin Akbar al-Husaini atau Syekh Jumadil Qubro
-
Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik
-
Raden Rahmat atau Sayyid Ahmad Rahmatillah atau SunanAmpel dan Dewi Condrowati
, yang kemudian lahir Raden Qasim atau Sunan Drajat.
Dalam menyampaikan ajarannya , Sunan Drajat menempuh 5 cara :
» Pertama , lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar.
»
Kedua , melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren.
» Ketiga
, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
» Keempat
, melalui kesenian tradisional dengan kerap berdakwah lewat tembang yang
diiringi gamelan. Karena itu ia dikenal sebagai seorang wali pencipta tembang
Mocopat yakni Pangkur.
Sisa-sisa
Gamelan Singo Mengkoknya kini tersimpan di Museum Daerah.
»
Kelima , ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional ,
asal tidak bertentang dengan ajaran Islam.
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Tour Ziarah waliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019, Wisata Religi, Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019
#ziarahWalisongo#SejarahWaliSongo#MakamWaliSongo#SejarahWaliSongo#SejarahSunanDrajat#WaliSongo#SunanWaliSongo#Makam#Ziarah#WisataWaliSongo#ZiarahMakamSunanDrajat#WisataWaliSongo#WaliSongo

0 Response to "BANYAK DICARI, Wa +62 858 5946 5858, Wisata Religi Ziarah Wali Songo"
Posting Komentar