BERKUALITAS, Wa +62 858-5946-5858, Paket Ziarah Wali Songo 2019
Minggu, 28 Oktober 2018
Paket Wisata Religi Wali Songo,
Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta,
Paket Ziarah Wali Songo 2019,
Sewa Bus Ziarah Wali Songo
Edit
BERKUALITAS, Wisata Religi Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019, Tour Ziarah WaliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Penyebaran Agama di Kabupaten Lamongan
Di antara penyebar Islam di wilayah Lamongan, yang
paling banyak
dikenal oleh masyarakat adalah Sunan Drajat, karena
beliau masih tergolong
Wali dalam jajaran WaliSongo atau Wali Sembilan yang
terkenal di kalangan
masyarakat Jawa.
Sunan Drajat bernama kecil Syarifuddin atau Raden
Qosim, sedang masyarakat luas juga mengenalnya dengan nama Masih Munat. Beliau
putera Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran agama Islam
dikuasai, beliau mengambil tempat di desa Drajat, wilayah Kecamatan Paciran,
Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, sebagai pusat kegiatan da’wahnya.
Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal
sosiawan, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Pendekatan dakwahnya
memang terutama lebih dititik beratkan kepada dakwah bil-hal, yakni dakwah yang
terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan ajaran.
Ajaran beliau yang dihafal orang-orang desa Drajat dan
sekitarnya sampai sekarang merupakan rumusan filosofis-sosiologis, antara lain:
Menehono teken marang toong kang wuta, menehono mangan marang wong kang luwe,
menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyub marang ivong kang
kodanan
Arti secara harfiah ajaran tersebut adalah: Berilah
tongkat orang yang buta, berilah makan orang lapar, berilah pakaian orang yang
telanjang, dan berilah tempat berteduh orang yang kehujanan.
Maksud ajaran itu adalah “Agar memberikan ilmu dan
petunjuk kepada orang-orang yang buta hati dan nalarnya; agar menyejahterakan
kehidupan orang-orang miskin; agar mengajarkan kesusilaan kepada orang-orang
yang tidak tahu malu; dan agar memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menderita.”
Sunan Drajat di samping mengajarkan agama Islam yang
berkenaan dengan kehidupan rohani dan nalar, beliau juga memberikan motivasi
yang lebih ditekankan pada etos kerja dan kedermawanan untuk mengentas
kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah,
karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yakni Desa
Drajat (dulu bernama Desa Kadrajat) sebagai daerah perdikan atau otonom dari
Kerajaan Islam Demak, pada tahun 1475 Saka atau 1553 M.
Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan
agama Islam di pesisir utara Jawa Timur dan usahanya menanggulangi kemiskinan
serta menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar
Sunan Mayang Madu dari Raden Fatah, sultan Demak I.
Sunan Drajat dalam menyebarkan agama Islam kepada
masyarakat di pantai utara Jawa Timur selain menggunakan pendekatan da’wah
bilhal juga pendekatan seni budaya. Pendekatan seni budaya dilakukan untuk
menarik perhatian masyarakat yang pada waktu itu masih beragama Hindu atau
Budha.
Sunan Drajat mendekati masyarakat dan memasukkan ajaran agama Islam lewat
pertunjukan seni gending dan tembang. Peninggalan Sunan Drajat berupa peralatan
gamelan yang tersisa sampai sekarang diberi nama Museum Daerah Drajat, tempat
menyimpan benda-benda Singo Mengkok. Disamping itu dalam sejarah, Sunan Drajat
juga dikenal sebagai salah seorang Wali pencipta tembang macapat, yakni tembang
pangkur. Konon kata pangkur itu menurut keratabasa (menerangkan arti kata-kata
berdasarkan etimologi yang direka dari bentuk singkatannya yang cocok dengan
akal) dari singkatan pang dan kur maksudnya ialah pangudi isine Kur’an artinya
berusaha mengerti isi Al-Qur’ an. Lagu-lagu tembang tersebut memang diisi
ajaran syari’at Islam. Sedang kata pangkur sendiri adalah bahasa Jawa kuna yang
artinya pejabat kerajaan yang bertugas mengawasi agar perintah raja ditaati
termasuk mengawasi pejabat yang dilarang memasuki daerah perdikan.
Wisata Ziarah Makam Wali Songo
Selain dakwah yang bersifat umum, Sunan Drajat juga
mendidik anak-anak secara tetap di masjid yang didirikan secara sederhana
(sekarang sudah dipugar). Pendidikan ini tanpa dipungut bayaran sama sekali,
sebaliknya bagi anak-anak yatim dan yang tidak mampu malah disantuni.
Sunan Drajat menyebarkan agama Islam di daerah
Lamongan dan memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan selama 36 tahun.
Setelah wafat, kedudukannya digantikan oleh puteranya yang bernama Raden Ngarip
yang dikukuhkan oleh Sultan Demak II dengan gelar Panembahan Agung pada tahun
saka 1442 atau tahun 1520 M. Adik-adiknya, Raden Ishaq dan Raden Sidik, juga
diberi gelar, masing-masing sebagai Panembahan Galomantung dan Panembahan
Sepetmadu, tetapi keduanya tidak berhak atas jabatan keprajaan.
Panembahan Agung kawin dengan Raden Ayu Sekarpuri,
puteri Adipati Cokroyudo dari Kediri dan beroleh tiga orang putera, yaitu Raden
Permadi, Raden Pajarakan dan Raden Pamekso. Setelah Panembahan Agung meninggal
dunia, kedudukannya dalam keprajaan digantikan oleh Raden Permadi dengan gelar
Panembahan Adikusumo.
Untuk menghormati jasa-jasa Sunan Drajat sebagai
seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan bagian utara dan untuk
melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah, Pemerintah Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat di sekitar
makam beliau. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Jawa Timur pada tanggal 31 Maret 1992. Sekarang, para peziarah ke makam Sunan
Drajat akan dapat melihat dan menghayati benda-benda purbakala peninggalan beliau
di Museum tersebut.
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Cara Berdakwah
Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan
kedermawanannya.
Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak
saling menyakiti , baik melalui perkataan maupun perbuatan.
"Bapang den simpangi , ana catur mungkur", demikian petuahnya yang berarti :
Jangan dengarkan pembicaraan yang menjelek-jelakan
orang lain , apalagi melakukan perbuatan tersebut.
Sunan Drajat memperkenalkan Islam melalui kosep dakwah
bil-hikmah , dengan cara-cara bijak , tanpa memaksa.
Tour Ziarah Makam Wali Songo 2019
Dalam menyampaikan ajarannya , Sunan Drajat menempuh 5 cara :
» Pertama , lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar.
» Kedua , melalui penyelenggaraan
pendidikan di pesantren.
» Ketiga , memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
» Keempat , melalui kesenian
tradisional dengan kerap berdakwah lewat tembang yang diiringi gamelan. Karena
itu ia dikenal sebagai seorang wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur.
Sisa-sisa Gamelan Singo Mengkoknya kini tersimpan di
Museum Daerah.
» Kelima , ia juga menyampaikan ajaran
agama melalui ritual adat tradisional , asal tidak bertentang dengan ajaran
Islam.
Empat pokok ajaran Sunan Drajat dari sap tangga ketujuh yang terakhir
adalah :
1. Paring
teken marang kang kalunyon lan wuta = Berikan tongkat
kepada yang terpeleset dan buta.
2. Paring
pangan marang kang kaliren = Berikan makan kepada yang
kelaparan.
3. Paring sandang marang kang kawudan =
Berikan pakaian kepada yang telanjang.
4. Paring payung marang kang kodanan =
Berikan payung kepada yang kehujanan.
Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya.
Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam
hari , sehingga penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk
halus yang konon merajalela selama dan setelah pembukaan hutan tersebut.
Ia juga sering mengobati warga yang sakit dengan
ramuan tradisional dan doa.
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Istri Sunan Drajat
Dalam beberapa naskah , Sunan Drajat disebut-sebut
menikahi tiga perempuan.
1. Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati.
Menurut Babad Tjerbon bahwa sebelum sampai ke Lamongan
, ia sempat dikirim ayahnya untuk berguru mengaji kepada bekas murid ayahnya
yaitu Sunan Gunung Jati dan menikahi putrhnya.
2. Kemuning putri Mbah Mayang Madu
salah satu tokoh tetua yang pernah menolong Sunan
Drajat ketika terdampar di Jelak.Dan mungkin karena menikah dengan putri Mbah
Mayang Madu inilah , Sunan Drajat mendapat gelar dari Raden Patah dengan
sebutan Sunan Mayang Madu.
3. Retnayu Condrowati putri Adipati Kediri yang
bernama Raden Suryadilaga. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada tahun 1465.
Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikah
dengan Dewi Sufiyah , ia tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan
sebutan Pangeran Kadrajat atau Pangeran Drajat.
Di desa Drajat , terdapat sebuah masjid besar yang
diberi nama Masjid Nur Drajat.
Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengkisahkan bahwa
dari istri pertama yaitu Dewi Sufiyah mendapat keturunan tiga anak.
1. Pangeran Rekyana atau Pangeran Tranggana.
2. Pangeran Sandi.
3. Dewi Wuryan.
Ziarah Wali Songo 2018
Penghargaan
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai
seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo
mengkok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.
Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai
seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan
budaya serta benda-benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan
para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten
Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam.Museum ini
telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.
Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk
menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan
penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992
dengan pemugaran Cungkup dan pembangunan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta
dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat
yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun
1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat
dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté
serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang
diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.
Wafat
Sunan Drajat wafat pada tahun 1522. Makamnya di Desa
Drajat Kec. Paciran Kab. Lamongan. Tak jauh dari makam terdapat sebuah museum
Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858
Tour Ziarah waliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019, Wisata Religi, Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019
#ziarahWalisongo#SejarahWaliSongo#MakamWaliSongo#SejarahWaliSongo#SejarahSunanDrajat#WaliSongo#SunanWaliSongo#Makam#Ziarah#WisataWaliSongo#ZiarahMakamSunanDrajat#WisataWaliSongo#WaliSongo

0 Response to "BERKUALITAS, Wa +62 858-5946-5858, Paket Ziarah Wali Songo 2019 "
Posting Komentar