BERKUALITAS, Wa +62 858-5946-5858, Paket Ziarah Wali Songo 2019

SUNAN DRAJAT






BERKUALITAS, Wisata Religi Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019,Tour Ziarah WaliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019



Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858


Penyebaran Agama di Kabupaten Lamongan

Di antara penyebar Islam di wilayah Lamongan, yang paling banyak
dikenal oleh masyarakat adalah Sunan Drajat, karena beliau masih tergolong
Wali dalam jajaran WaliSongo atau Wali Sembilan yang terkenal di kalangan
masyarakat Jawa.

Sunan Drajat bernama kecil Syarifuddin atau Raden Qosim, sedang masyarakat luas juga mengenalnya dengan nama Masih Munat. Beliau putera Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran agama Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di desa Drajat, wilayah Kecamatan Paciran, Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan, sebagai pusat kegiatan da’wahnya.

Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal sosiawan, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Pendekatan dakwahnya memang terutama lebih dititik beratkan kepada dakwah bil-hal, yakni dakwah yang terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan ajaran.

Ajaran beliau yang dihafal orang-orang desa Drajat dan sekitarnya sampai sekarang merupakan rumusan filosofis-sosiologis, antara lain: Menehono teken marang toong kang wuta, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyub marang ivong kang kodanan

Arti secara harfiah ajaran tersebut adalah: Berilah tongkat orang yang buta, berilah makan orang lapar, berilah pakaian orang yang telanjang, dan berilah tempat berteduh orang yang kehujanan.

Maksud ajaran itu adalah “Agar memberikan ilmu dan petunjuk kepada orang-orang yang buta hati dan nalarnya; agar menyejahterakan kehidupan orang-orang miskin; agar mengajarkan kesusilaan kepada orang-orang yang tidak tahu malu; dan agar memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menderita.”

Sunan Drajat di samping mengajarkan agama Islam yang berkenaan dengan kehidupan rohani dan nalar, beliau juga memberikan motivasi yang lebih ditekankan pada etos kerja dan kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah, karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yakni Desa Drajat (dulu bernama Desa Kadrajat) sebagai daerah perdikan atau otonom dari Kerajaan Islam Demak, pada tahun 1475 Saka atau 1553 M.

Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa Timur dan usahanya menanggulangi kemiskinan serta menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Fatah, sultan Demak I.

Sunan Drajat dalam menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di pantai utara Jawa Timur selain menggunakan pendekatan da’wah bilhal juga pendekatan seni budaya. Pendekatan seni budaya dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat yang pada waktu itu masih beragama Hindu atau Budha.

Sunan Drajat mendekati masyarakat dan  memasukkan ajaran agama Islam lewat pertunjukan seni gending dan tembang. Peninggalan Sunan Drajat berupa peralatan gamelan yang tersisa sampai sekarang diberi nama Museum Daerah Drajat, tempat menyimpan benda-benda Singo Mengkok. Disamping itu dalam sejarah, Sunan Drajat juga dikenal sebagai salah seorang Wali pencipta tembang macapat, yakni tembang pangkur. Konon kata pangkur itu menurut keratabasa (menerangkan arti kata-kata berdasarkan etimologi yang direka dari bentuk singkatannya yang cocok dengan akal) dari singkatan pang dan kur maksudnya ialah pangudi isine Kur’an artinya berusaha mengerti isi Al-Qur’ an. Lagu-lagu tembang tersebut memang diisi ajaran syari’at Islam. Sedang kata pangkur sendiri adalah bahasa Jawa kuna yang artinya pejabat kerajaan yang bertugas mengawasi agar perintah raja ditaati termasuk mengawasi pejabat yang dilarang memasuki daerah perdikan.


Wisata Ziarah Makam Wali Songo

Selain dakwah yang bersifat umum, Sunan Drajat juga mendidik anak-anak secara tetap di masjid yang didirikan secara sederhana (sekarang sudah dipugar). Pendidikan ini tanpa dipungut bayaran sama sekali, sebaliknya bagi anak-anak yatim dan yang tidak mampu malah disantuni.

Sunan Drajat menyebarkan agama Islam di daerah Lamongan dan memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan selama 36 tahun. Setelah wafat, kedudukannya digantikan oleh puteranya yang bernama Raden Ngarip yang dikukuhkan oleh Sultan Demak II dengan gelar Panembahan Agung pada tahun saka 1442 atau tahun 1520 M. Adik-adiknya, Raden Ishaq dan Raden Sidik, juga diberi gelar, masing-masing sebagai Panembahan Galomantung dan Panembahan Sepetmadu, tetapi keduanya tidak berhak atas jabatan keprajaan.

Panembahan Agung kawin dengan Raden Ayu Sekarpuri, puteri Adipati Cokroyudo dari Kediri dan beroleh tiga orang putera, yaitu Raden Permadi, Raden Pajarakan dan Raden Pamekso. Setelah Panembahan Agung meninggal dunia, kedudukannya dalam keprajaan digantikan oleh Raden Permadi dengan gelar Panembahan Adikusumo.

Untuk menghormati jasa-jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan bagian utara dan untuk melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah, Pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat di sekitar makam beliau. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur pada tanggal 31 Maret 1992. Sekarang, para peziarah ke makam Sunan Drajat akan dapat melihat dan menghayati benda-benda purbakala peninggalan beliau di Museum tersebut.


Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858

Cara Berdakwah

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya.
Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti , baik melalui perkataan maupun perbuatan.

"Bapang den simpangi , ana catur mungkur", demikian petuahnya yang berarti :
Jangan dengarkan pembicaraan yang menjelek-jelakan orang lain , apalagi melakukan perbuatan tersebut.

Sunan Drajat memperkenalkan Islam melalui kosep dakwah bil-hikmah , dengan cara-cara bijak , tanpa memaksa.

Tour Ziarah Makam Wali Songo 2019

Dalam menyampaikan ajarannya , Sunan Drajat menempuh 5 cara  :

» Pertama , lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar.
» Kedua , melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren.
» Ketiga , memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.
» Keempat , melalui kesenian tradisional dengan kerap berdakwah lewat tembang yang diiringi gamelan. Karena itu ia dikenal sebagai seorang wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur.
Sisa-sisa Gamelan Singo Mengkoknya kini tersimpan di Museum Daerah.
» Kelima , ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional , asal tidak bertentang dengan ajaran Islam.


Empat pokok ajaran Sunan Drajat dari sap tangga ketujuh yang terakhir adalah :

1. Paring teken marang kang kalunyon lan wuta = Berikan tongkat kepada yang terpeleset dan buta.
2. Paring pangan marang kang kaliren = Berikan makan kepada yang kelaparan.
3. Paring sandang marang kang kawudan = Berikan pakaian kepada yang telanjang.
4. Paring payung marang kang kodanan = Berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya.
Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari , sehingga penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang konon merajalela selama dan setelah pembukaan hutan tersebut.
Ia juga sering mengobati warga yang sakit dengan ramuan tradisional dan doa.


Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858


Istri Sunan Drajat

Dalam beberapa naskah , Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan.
1. Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati.
Menurut Babad Tjerbon bahwa sebelum sampai ke Lamongan , ia sempat dikirim ayahnya untuk berguru mengaji kepada bekas murid ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati dan menikahi putrhnya.

2. Kemuning putri Mbah Mayang Madu
salah satu tokoh tetua yang pernah menolong Sunan Drajat ketika terdampar di Jelak.Dan mungkin karena menikah dengan putri Mbah Mayang Madu inilah , Sunan Drajat mendapat gelar dari Raden Patah dengan sebutan Sunan Mayang Madu.

3. Retnayu Condrowati putri Adipati Kediri yang bernama Raden Suryadilaga. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada tahun 1465.

Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikah dengan Dewi Sufiyah , ia tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat atau Pangeran Drajat.

Di desa Drajat , terdapat sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat.
Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengkisahkan bahwa dari istri pertama yaitu Dewi Sufiyah mendapat keturunan tiga anak.

1. Pangeran Rekyana atau Pangeran Tranggana.
2. Pangeran Sandi.
3. Dewi Wuryan.
           
Ziarah Wali Songo 2018

Penghargaan
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo meng­kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.
Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-­benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam.Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.

Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.

Wafat
Sunan Drajat wafat pada tahun 1522. Makamnya di Desa Drajat Kec. Paciran Kab. Lamongan. Tak jauh dari makam terdapat sebuah museum


Info paket Tour Wisata Religi Wali Songo di Sunan Drajat Hubungi Wa +62 858-5946-5858

Tour Ziarah waliSongo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo 2019, Wisata Religi, Ziarah Wali Songo, Jual Paket Wisata Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Religi Wali Songo, Sewa Bus Ziarah Wali Songo, Paket Wisata Ziarah Wali Songo Dari Jakarta, Paket Ziarah Wali Songo 2019


#ziarahWalisongo#SejarahWaliSongo#MakamWaliSongo#SejarahWaliSongo#SejarahSunanDrajat#WaliSongo#SunanWaliSongo#Makam#Ziarah#WisataWaliSongo#ZiarahMakamSunanDrajat#WisataWaliSongo#WaliSongo


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BERKUALITAS, Wa +62 858-5946-5858, Paket Ziarah Wali Songo 2019 "

Posting Komentar